Friday, September 01, 2006

Outbond di kantor

Tanggal 5 sampai tanggal 7 September 2006, saya akan mengikuti acara outbond di kantor.
Semoga bisa menjadi sarana mengakrabkan diri ama peneliti-peneliti senior...

Thursday, August 31, 2006

Nemu anak kucing yang buta *hiksss

Tadi, gak sengaja pas pulang kantor lewat jalan tikus, ngeliat anak kucing yang masih cimot lagi susah payah nyebrang jalan, dan Ya Allah, kasiyan banget tuh kucing karena dua matanya buta. Akhirnya saya brenti di pinggir jalan, dan langsung menggendongnya, duh...saking cimotnya, tuh anak kucing cuman saya pegang pakai satu tangan. Dan Masya Allah, kedua matanya "rusak" gitu...
Subhanallah, dia masih bertahan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, tapi btw kemana ya induknya??
Kok si anak gak diurus? Atau jangan-jangan malah itu kucing dibuang ya??
Aduuuhhh, bu kucing, tolong dong jangan ninggalin anakmu di sembarang tempat...

PS:
for my little cat out there, please take care ya...
I am gonna miss you..



Berkendara Motor Aman dan Nyaman Bagi Para Wanita di Jakarta


Gambar Chepi

Uppssss, secara nih, tiap hari naek motor kesayangan saya si Chepi, makanya saya pengen berbagi pengalaman ttg bagaimana berkendara motor yang aman dan nyaman di Jakarta. Duuuhhh, kebayang gak sih, di Jakarta yang jalannya super padat gitu, naek motor???
Dari dulu, sejak saya duduk di bangku SMP, saya udah suka naek motor, walau saat itu masih belajar dan masih suka nabrak tembok *hiihihihii gara-gara gak bisa ngerem*. Tapi, yang namanya proses belajar ya gitu itu, pasti banyak ngalami hal-hal baru dan pasti menyenangkan.
Jadi, setelah saya mengalami dan merasakan bagaimana berkendara motor di Jakarta, Semarang, Jokja, Purbalingga dan Purwokerto *upssss kayak tur aja*, ya sejatinya emang cuman di Jakarta aja yang lebih membutuhkan kesabaran ekstra dalam berkendara. Hal itu yang gak lain dan gak bukan karena begitu padatnya jalanan di Jakarta ditambah begitu nekadnya para pengguna jalan, baik sopir metromini atau sopir kendaraan pribadi.

Beberapa hal yang bisa diterapkan dalam berkendara motor di Jakarta, khususnya bagi para wanita :

1. Gunakan penutup wajah, bisa syal atau masker yang udah banyak dijual di mana-mana, hal ini bertujuan untuk mengurangi rasa sesak akibat polusi asap buangan dari knalpot kendaraan lain. Selain itu, wajah lebih terlindungi dari panas matahari, dan menghindar dari lirikan mata laki-laki hehehhee kan jadi penasaran tuh kalo liat wajah cewek ditutupi???

2. Gunakan kaos tangan, bukan kaos kaki dipakai di tangan lho! Kaos tangan, untuk saya pribadi sih emang berguna menambah kenyamanan saat tangan sedang melekat pada kedua sisi stang kendaraan, jadi gak licin dan gak berkeringat. Selain itu juga untuk menutupi dan melindungi tangan dari sengatan matahari *lagi-lagi gak mau jadi hitam legam gara-gara naik motor hehehehe* Kaos tangan yang nyaman pun bisa dirasakan jika tidak terlalu kebesaran ukurannya, karena kalau kedodoran juga percuma, kan tangan jadi berasa aneh...Biasanya kaos tangan ini bisa dibeli di toko-toko outdoor equipment, rata-rata memang digunakan untuk kebutuhan outdoor gitu. Dan satu lagi, jadi keliatan keren kalo pake kaos tangan hehehehe

3. Gunakan helm yang pas dengan ukuran kepala kita, jangan terlalu sempit atau terlalu longgar. Dan jangan sekali-kali menggunakan helm orang lain tanpa permisi...bisa dikejar-kejar sekuriti hehehehe. Dulu saya pernah mengalami hal itu, jadi pas lagi parkir Chepi di pinggir jalan, helm saya disamber orang tak bertanggungjawab. Kontan saja saya jadi marah, langsung tuh Chepi saya gas kebut-kebutan ama si maling, ampe saya gak sadar kalau saya gak pake helm eh, begitu ada Om Polisi, saya ngadu habis-habisan, biar gak ditilang juga siy....Jadi, lindungilah helm kita sebisa mungkin. Bisa di "cantol" kan di jok motor atau dititipin aja di penitipan helm, atau kalao mau ya ditenteng sana sini....

4. Sebelum benar-benar berkendara, cek terlebih dahulu kelengkapan surat-surat motor kita, supaya kalau ada razia "orang-orang manis" dadakan dijalan, kita gak bakal panik..

5. Nah, karena jalanan di Jakarta itu super padat dan macet, kita harus pandai memilih jalan "tikus" alias jalan kecil lewat gang-gang sempit atau jalan pintas. Seperti saya dulu, tak sengaja nemu jalan tikus menuju kantor gara-gara keisengan saya ngikuti mobil yang kebetulan ada di depan saya. Terlalu PD sih, tapi Alhamdulillah tujuan kami sama. Jadi, intinya, "Iseng juga manusia ..." hehehe

6. Nah kalo udah punya jalur khusus lewat jalan tikus, ada lagi yang mesti dperhatikan, yaitu kecekatan dalam menyalip. Karena hal ini mempengaruhi diomeli tidaknya kita oleh orang-orang bermobil mewah yang juga lewat jalan tikus tadi. Biasanya, mereka gak mau ngalah, mentang-mentang mobilnya bagus, jadi yang naek motor suka jadi kalah-kalahan. Itulah kenapa kita butuh kecekatan dalam menyalip. Biar gak nyenggol hehehehe. Dan jika sampe nyenggol, ada trik nih biar kita gak diomelin di depan publik, caranya : langsung kasih senyum paling manis aja sambil ngacir pergi, pastinya beres tuh...

7. Sekali-kali boleh aja kok kita kenalan ama sesama pengendara motor kalau lagi nunggu lampu merah...hehehehe jadi perjalanan kita dijamin gak membosankan secara banyak banget tuh motor-motor keren yang berslewiren di jalanan, dan kadang mereka juga iseng kok suka nanya ke saya "Mbak, Semarangnya mana?" hehehehe yalah, secara Chepi kan asli lahir di Semarang....

Lanjutannya besok-besok ah, kalo moodnya ada :D




Wednesday, August 30, 2006

Kok Sariawan Lagi Ya???

Hiksss udah lama gak sariawan, kenapa ya tiba-tiba kemaren bibir sebelah bawah kegigit gak sengaja pas lagi maem nasi hikkssss, sakit bener rasanya, mana pas ngunyah pake semangat lagi, uuugghhhhhhhhhh berasa banget gimana sakitnya....

Ya Allah, semoga sariawannya cepet sembuh ya...

The Wedding Ring


Hehehe lucu ya modelnya???

Kampung di Surabaya *

KIP dahulu, KIP sekarang

Selama ini, pemerintah Kota Surabaya memang telah memiliki program khusus yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas permukiman di beberapa lokasi. Program ini adalah KIP (Kampung Improvement Program) yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1923 yang pada awalnya bertujuan untuk mengatasi permasalahan sanitasi permukiman penduduk yang kala itu banyak dihuni oleh orang-orang Eropa. KIP ini diperkenalkan kembali pada tahun 1960an di Jakarta dan Surabaya dengan tujuan untuk memperluas sasaran pembangunan wilayah perkotaan kepada penduduk yang berpenghasilan rendah. Pendekatan ini pada dasarnya terdiri atas ketetapan yang bertujuan untuk melengkapi proses penyediaan perumahan masyarakat secara swadaya yang terdiri atas 5 tujuan penting yaitu: (1) untuk mengenali kampung, yang sebagian besar permukiman penduduk di Indonesia adalah kampung, (2) untuk lebih memadukan antara kampung dengan model perumahan perkotaan dan sistem pelayanan masyarakatnya, (3) untuk menambah partisipasi masyarakat, (4) untuk mendorong mobilitas dan perekonomian penduduk kota dan (5) untuk memastikan perbaikan kualitas hidup penghuni kampung yang terus menerus.
Dan kota Surabaya bukanlah kota yang pertama kali mendapatkan kesempatan dalam pelaksanaan KIP, sebab selain Kota Surabaya, Kota Semarang juga merupakan kota yang pernah “disentuh” oleh pelaksanaan KIP. Tahun 1924 Kota Surabaya dan Kota Semarang menjadi dua kota pertama yang “disentuh” KIP yang kala itu difokuskan pada peningkatan sanitasi saja. Namun seiring dengan perkembangan kebutuhan perkotaan, maka model yang kemudian dikembangkan oleh salah seorang pakar arsitektur Institut Teknologi Surabaya Prof Johan Silas telah mampu memperluas orientasi KIP itu sendiri. KIP yang sekarang dikenal adalah KIP Komprehensif yang tampak lebih “matang” mengartikan sebuah proses panjang perbaikan kampung dengan tidak membangun fisik perkampungan saja tetapi membangun juga kualitas hidup penghuninya. KIP Komprehensif yang mengusung panji-panji pembangunan manusiawi ini memang harus didukung pula oleh Pemkot Surabaya yang dibuktikan dengan adanya proyek pembangunan prasarana kota terpadu (P3KT). Begitu pula kerjasama dengan pihak Dinas Permukiman Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Surabaya yang telah menghasilkan sejenis program pengembangan ide KIP yaitu Program Tri Bina. Bina lingkungan, bina usaha dan bina manusia atau Tri Bina adalah salah satu langkah membenahi lingkungan sekaligus manusi penghuninya.

KIP, Johan Silas dan The Aga Khan Award

Sosok Johan Silas memang tidak akan lepas dari kepiawaannya dalam mengembangkan model KIP Komprehensif di Kota Surabaya. Bagaimana tidak, dengan KIP ini selama kurun waktu 1976 hingga 1990 sebanyak 2.827 hektar lahan dengan penduduk 1.154.000 orang yang telah mampu diperbaiki menggunakan dana sebesar Rp 23.910.000 atau Rp 8.500 per hektar. Selain itu, KIP juga telah memperbaiki kondisi ruas jalan sepanjang 132 km untuk kendaraan dan ruas jalan 306 km untuk orang serta menyediakan 1.612 kran umum. Hal ini menarik beberapa pejabat dari India untuk mempelajari KIP dengan mengunjungi Kota Surabaya selama beberapa hari. Menurut Johan Silas yang juga merupakan salah satu pengajar di Fakultas Teknik Arsitektur ITS ini KIP sendiri bertujuan untuk menciptakan hunian nyaman untuk wong cilik yang tidak hanya mementingkan kondisi fisik tetapi juga manusia yang menghuninya. Berkat keberhasilan KIP ini, Johan Silas menerima penghargaan dari Pemerintah India, The Aga Khan Award pada tahun 1989. Penghargaan tersebut memang merupakan salah satu bukti bahwa KIP memang sangat strategis dilaksanakan di negara-negara sedang berkembang yang memang memiliki permasalahan dengan tata kota. Dengan penghargaan tersebut, Johan telah membuktikan bahwa Indonesia dapat berprestasi di level internasional, karena KIP telah diakui oleh dunia.
KIP yang dikembangkan oleh Johan Silas ini memang memprioritaskan pembangunan permukiman untuk orang-orang yang berpendapatan rendah yang memang sudah banyak di contoh oleh negara-negara berkembang lain seperti India.
Dengan KIP, Indonesia tentu dapat lebih dihargai sebagai sebuah bangsa!




* Penulis pernah melakukan penelitian mengenai permukiman kumuh di Kota Surabaya, tahun 2004-2005


Sumber bacaan:

v Beberapa halaman catatan lapangan pribadi
v Buku “Kampung Surabaya Menuju Metropolitan”
v Buku “Pengalaman dan Pokok Pikiran Johan Silas”

Wednesday, August 16, 2006

A moment of happiness

A moment of happiness,

you and I sitting on the verandah,

apparently two, but one in soul, you and I.

We feel the flowing water of life here,

you and I, with the garden's beauty

and the birds singing.

The stars will be watching us,

and we will show them

what it is to be a thin crescent moon.

You and I unselfed, will be together,

indifferent to idle speculation, you and I.

The parrots of heaven will be cracking sugar

as we laugh together, you and I.

In one form upon this earth,

and in another form in a timeless sweet land.

*RUMI*